Surni dari Laut Wakatobi yang Menembus Batas menjadi Doktor dan Pemimpin Kampus

Deni Puja Pranata
6 Min Read
- Advertisement -

jfid – Di tengah lautan yang membentang seluas 96 persen wilayah Wakatobi, Sulawesi Tenggara, ada sosok perempuan yang membuktikan bahwa laut bukanlah batas, melainkan jembatan untuk meraih mimpi. Namanya Surni, perempuan pertama dari suku Bajo yang berhasil menyandang gelar doktor dan kini berdiri sebagai dosen di Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah Wakatobi. Perjalanannya bukan sekadar cerita inspiratif, melainkan bukti nyata bahwa pendidikan bisa menerobos keterbatasan geografis dan sosial.

Suku Bajo dikenal sebagai masyarakat nomaden laut yang hidup mengandalkan hasil tangkapan ikan. Sejak kecil, anak-anak dari suku ini terbiasa berlayar dan mendayung sampan untuk bertahan hidup. Namun di balitanya, Surni memiliki visi yang lebih besar. Ia tidak hanya ingin menjadi perempuan yang pandai berlayar, tetapi juga ingin menjadi orang yang bisa menyeberang batas-batas pengetahuan. Setiap hari, Surni harus menyeberang perairan untuk bisa sampai di sekolah. Perjuangan itu bukan mudah, terutama ketika ombak besar dan jarak tempuh yang cukup jauh menjadi rintangan setiap pagi.

Mendayung sampan untuk sekolah bukan sekadar tentang fisik yang lelah. Ada tekanan psikologis ketika banyak orang meragukan kemampuan perempuan dari suku Bajo untuk bisa bersaing di jenjang pendidikan tinggi. Namun Surni membuktikan bahwa dengan tekun dan semangat, tidak ada yang tidak mungkin. Ia menempuh pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, dan pada akhirnya berhasil menyelesaikan studi doktoral. Pencapaian itu menjadi sejarah baru bagi suku Bajo dan menjadi contoh nyata bahwa perempuan memiliki peran sentral dalam mengangkat martabat komunitas.

Kisah Surni juga mengajarkan pentingnya mentor dan dukungan sistemik. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ulhaq menyebut Surni sebagai contoh konkret bahwa investasi pendidikan bagi anak-anak di daerah terluar akan membuahkan hasil luar biasa. Pemerintah dan lembaga pendidikan perlu terus memperkuat akses pendidikan untuk anak-anak suku Bajo, termasuk beasiswa, fasilitas transportasi, dan dorongan akademik. Surni bukan hanya menjadi doktor, tetapi juga menjadi pintu harapan bagi ratusan anak-anak di Wakatobi yang kini mulai bermimpi bisa menjadi guru, dokter, atau tentara.

Setelah meraih gelar doktor, Surni memilih untuk kembali ke tanah kelahirannya. Keputusan itu bukan karena tidak ada tawaran kerja di kota besar, melainkan karena ia ingin menjadi bagian dari perubahan bagi komunitasnya. Sebagai dosen di ITBM Wakatobi, Surni kini berdiri di garis depan mengajar generasi muda Bajo untuk tidak menyerah pada keterbatasan. Ia membuktikan bahwa pendidikan tinggi tidak harus diikuti di kota besar, melainkan bisa dibawa pulang untuk memajukan daerah.

Bagi para perempuan yang sedang berjuang meraih pendidikan atau karier, kisah Surni memberikan beberapa pelajaran berharga. Pertama, jangan biarkan lokasi tempat kamu lahir menentukan batas pencapaianmu. Kedua, temukan mentor yang bisa mendukung perjalananmu. Ketiga, setelah sukses, berikan kembali kepada komunitasmu. Surni menunjukkan bahwa kesuksesan sejati bukan hanya tentang gelar atau jabatan, tetapi tentang bagaimana kamu menggunakan pencapaian itu untuk mengangkat orang lain.

Pendidikan bagi anak-anak suku Bajo juga mencerminkan visi jangka panjang pembangunan Indonesia. Di Wakatobi, 100 persen siswa adalah anak-anak dari suku Bajo, dan cita-cita mereka beragam mulai dari guru, dokter, tentara, hingga polisi. Beberapa bahkan bermimpi menciptakan teknologi yang bisa membantu nelayan bekerja di tengah laut. Hal itu menunjukkan bahwa ketika pendidikan benar-benar merata, anak-anak dari daerah terluar bisa berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Surni menjadi simbol baru dari Kartini masa kini. Ia tidak hanya memecahkan stereotip gender di daerah terluar, tetapi juga membuktikan bahwa perempuan dari suku asli Indonesia bisa bersaing di level akademik tertinggi. Di era yang menuntut kesetaraan gender, kisah Surni adalah pengingat bahwa kesempatan harus dibuka lebar untuk semua perempuan, tanpa memandang latar belakang suku, daerah, atau kondisi ekonomi.

Kisah Surni juga menjadi evaluasi bagi kita semua. Berapa banyak perempuan di daerah terpencil yang masih kesulitan mendapatkan akses pendidikan? Berapa banyak potensi doktor, insinyur, atau pemimpin masa depan yang masih terpendam karena kurangnya dukungan? Jawabannya adalah kita perlu lebih banyak cerita seperti Surni untuk diangkat dan dirayakan. Setiap kisah sukses perempuan dari daerah terluar adalah mercusuar yang bisa memotivasi ratusan perempuan lain untuk terus berjuang.

Perempuan pertama suku Bajo yang meraih gelar doktor kini menjadi dosen di ITBM Wakatobi. Itu adalah kalimat pendek yang memiliki makna sangat dalam. Ia membuktikan bahwa pendidikan bisa menjadi jembatan, bahwa Laut Flores bukan penghalang, dan bahwa perempuan bisa menjadi pelopor perubahan. Sejarah Surni baru dimulai, dan banyak anak-anak Bajo kini mulai melihat bahwa mimpi mereka juga bisa menjadi kenyataan, asalkan mereka berani mendayung menuju sekolah.

- Advertisement -
Share This Article